Bab 9 Tidak Apa-Apa
Pada hari pembukaan galeri lukisan Shinta, Lydia menghabiskan waktu satu jam lebih untuk berdandan secantik mungkin. Rambut lembutnya dibuat ikal menjuntai di punggungnya dengan dua helai rambut tipis di sisi wajahnya. Baju aprikotnya dipadukan dengan rok panjang sebetis berwarna hijau. Lydia jadi terlihat sangat modis dan anggun sekaligus sangat kasual dan seksi. Saat Kevin melihat Lydia, dia pun bersiul ringan dan berkata, “Kak Lydia, kapan kamu ingin mencari pacar? Bolehkah kamu memberikan nomor antrian untukku dulu supaya aku bisa antri duluan?” Lydia merasa tergelitik dan membalas, “Jangan usil!” “Aku serius, lho!” Kevin langsung melepaskan kacamata hitamnya, lalu memperhatikannya sambil menunduk. Kevin memang serius. Lydia tertegun sejenak. Untuk sementara ini, Lydia belum berpikir untuk memulai sebuah hubungan baru. Dia juga tidak punya niat untuk menjalin hubungan dengan daun muda dari perusahaannya sendiri. Lydia hanya mengabaikan Kevin, lalu masuk ke dalam mobil Maserati-nya. Kevin juga tidak merasa keberatan dengan sikapnya. Rasa canggung barusan sudah menghilang saat dia berkata, “Kak Lydia tenang saja, Kak Benita sudah memberitahuku semuanya. Hari ini, aku akan membantu Kak Lydia membalaskan dendam waktu itu.” Lydia lantas menghela napas, lalu tersenyum pada Kevin dan berkata, “Kalau begitu, aku serah semuanya padamu.” “Tidak masalah!” Mobil Maserati berwarna biru itu langsung melesat. Selanjutnya, mobil itu berhenti di bawah galeri lukisan Shinta dan menarik perhatian banyak orang. Setelah melepaskan sabuk pengamannya, Lydia turun dari mobil dengan ditemani oleh Kevin dan menggandeng tangan Kevin masuk ke ruang galeri. Satpam yang berada di luar segera menghalangi mereka dan berkata, “Tuan, Nona, tolong perlihatkan undangan kalian!” Lydia mengeluarkan sebuah surat undangan dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada satpam tersebut. Setelah tidak menemukan ada kejanggalan apa pun, satpam tersebut lantas mengizinkan mereka memasuki galeri. Hari ini, selain memamerkan lukisan karya Shinta, ada banyak pelukis yang juga memamerkan karya mereka di galeri ini. Makanya, tidak semua orang boleh masuk ke dalam galeri ini. Meskipun keluarga Wijaya masih kalah jika dibandingkan dengan keluarga Iskandar, keluarga Wijaya juga adalah keluarga yang sangat terpandang di kota Hasbin. Galeri berukuran 500 meter persegi itu disewa dengan harga 6 miliar per tahunnya, belum termasuk dengan biaya dekorasinya. Begitu masuk ke dalam galeri itu, Lydia langsung mengenali ornamen lampu kristal yang menggantung di atas langit-langitnya. Lampu itu didesain oleh seorang desainer dari Italia. Untuk lampu itu saja, harganya sudah mencapai 2 miliar lebih. Ada banyak sekali lemari-lemari yang sudah dipindahkan di dalam galeri tersebut sehingga menyisakan ruangan yang sangat luas untuk memudahkan para tamu menikmati lukisan yang ada di galeri. Tidak bisa dipungkiri kalau lukisan Shinta masih bisa dikatakan cukup menarik meski Lydia kurang paham. Banyak awak media yang datang untuk memberikan dukungan mereka pada galeri Nona Besar keluarga Wijaya. Hari ini, Kevin terlihat sangat sederhana dengan memakai kemeja yang dipadukan dengan celana panjang kasual berwarna aprikot. Kevin juga tidak lupa memakai kacamata. Para awak media sempat tidak mengenalinya untuk beberapa saat. Saat berada di lantai dua, Lydia sudah melihat Shinta dari kejauhan. Wanita itu memakai gaun motif bunga ala Perancis dengan rambut yang dibiarkan terurai sehingga wanita itu jadi terlihat sangat anggun. Adam masih belum tiba. Shinta sudah bolak-balik mengecek lantai bawah. Lydia dan Kevin berjalan menuju ke lantai dua galeri, lalu mereka menemukan sebuah teras. Di teras itu ada tiga buah bangku panjang dengan parasol. Lalu di sampingnya terdapat sebuah dinding dengan lukisan. Di sudut ruangan tersebut terdapat makanan dan minuman ringan. Sekarang, semua orang berada di luar. Teras ini sangat Sunnyi. Lydia melihat Kevin dan berkata, “Kita duduk sebentar di sini?” “Baiklah!” Seni adalah sesuatu yang sangat berkelas. Lydia sampai tidak sanggup untuk menikmatinya. Orang-orang di dalam sana sedang membahas lukisan Van Gogh. Sedangkan Lydia dan Kevin malah sibuk membahas gosip-gosip panas seputar dunia selebritas. Berbeda dengan Benita, Lydia tidak begitu tertarik pada gosip dunia selebritas. Namun, mendengarnya sesekali juga bukan sesuatu yang buruk. Di depan meja terdapat jus buah dan kue tart, lalu di seberangnya ada pria tampan. Lydia merasa kalau dia bisa duduk sepanjang sore di tempat ini. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, tujuan Lydia datang hari ini adalah untuk membuat Violin kesal. Lydia pun meletakkan jus buahnya, lalu melihat ke arah Kevin dan berkata, “Bintang utama hari ini seharusnya sudah tiba. Ayo kita masuk ke sana!” Sambil tersenyum, Lydia berdiri dan menenteng tasnya. Sebelum mereka berdua menapak masuk ke dalam galeri tersebut, seruan kaget Violin sudah terdengar terlebih dahulu, “Kenapa kalian bisa berada di tempat ini?” Melihat Lydia, perasaan lebih unggul langsung menyelimuti hati Violin. Akan tetapi, saat melihat wajah Lydia yang kelewat cantik itu, Violin kembali merasa tidak senang. Makanya, setiap kali bertemu dengan Lydia, Violin selalu menyindirnya. Begitu pula dengan hari. “Apa kamu tidak tahu ini tempat apa? Apa kamu kira kamu pantas berada di sini, Lydia? Apa kamu tahu kalau hari ini kakakku juga akan datang ke tempat ini. Makanya, kamu datang supaya kamu bisa memintanya untuk rujuk kembali, ya?” Violin merasa perkataannya ini sangat masuk akal dan menambahkan, “Biar kuberitahu, ya! Jangan bermimpi lagi! Kalau kamu mau rujuk kembali dengan kakakku, pertama kamu harus memohon padaku terlebih dahulu. Mungkin saja aku bisa menjadi mediasi kalian berdua. Meskipun pada akhirnya kakakku tidak akan setuju untuk rujuk kembali, dia setidaknya akan mendengarkan penjelasan darimu.” “Bagaimana? Usulku ini bagus, bukan? Di sini tidak banyak orang, kamu ….” Begitu Violin melihat Lydia, dia terus memperhatikan Lydia sampai tidak sadar kalau di samping Lydia juga ada seorang pria yang sedang berdiri. Lalu pria ini juga terlihat sangat tidak asing. Ketika Violin yakin kalau pria itu adalah Kevin, ekspresi Violin jadi kelihatan sangat menarik. “Kamu, kenapa kamu bisa bersama dengan Kevin?” Lydia tidak menjawabnya dan hanya memalingkan wajahnya ke arah Kevin. Kevin pun melepaskan kacamata hitamnya dan membantu Lydia menjawab, “Aku datang ke sini untuk melindungi Lydia.” “Ah! Kamu …. Mana mungkin? Mana mungkin kalian bisa bersama?” Violin melihat Kevin dan sudah hampir menangis. Sementara itu, Lydia hanya diam dan melihat tingkah Violin yang seperti badut tanpa mengatakan apa pun. Setelah beberapa saat, ketika Lydia sudah puas menontonnya, dia pun berkata, “Ayo jalan!” Violin merasa hampir gila. Awalnya, Violin sempat mengira kalau foto yang beredar beberapa hari yang lalu itu adalah foto hasil jepretan wartawan yang diambil dari sudut yang salah. Violin terus menghibur dirinya dengan mengatakan kalau Kevin tidak memiliki hubungan apa pun dengan Lydia. Kevin juga tidak mungkin bisa memiliki hubungan dengan Lydia. Namun hari ini, dia melihat idolanya sedang berdiri dengan wanita ini dengan mata kepalanya sendiri. ‘Dia tidak pantas! Lydia sama sekali tidak pantas!’ “Kalian tidak boleh pergi!” Semua orang mengabaikannya. Lydia sudah kembali ke galeri tersebut, lalu Kevin mengikutinya di belakang. Kevin yang memakai kacamata hitam tersenyum simpul. Mereka menunduk dan berbisik mengatakan sesuatu. Wajah mereka terlihat sangat gembira. Violin kesal sampai wajahnya berubah merah padam. Setelah sadar, Violin segera mengikuti mereka. Baru beberapa langkah, Lydia dan Kevin langsung berpapasan dengan Adam dan Shinta. Kelompok wartawan yang berada di belakang sedang menenteng kamera. Suasananya terasa agak menegangkan. Shinta-lah yang kemudian memecahkan ketegangan di antara mereka dengan berkata, “Nona Lydia, sudah lama tidak berjumpa!” Lydia mengangguk dan membalas, “Aku bosan makanya aku datang untuk melihat-lihat! Galerimu lumayan juga.” Shinta menghela napas seperti agak terkejut dan berkata, “Aku tidak menyangka kalau Nona Lydia ternyata juga bisa menyukai lukisanku. Aku jadi merasa terhormat.” Perkataan Shinta ini sangat dipaksakan. Lydia hanya memuji lukisan Shinta dengan kata lumayan. Shinta langsung mengatakan kalau Lydia menyukai lukisannya. Nada bicaranya terdengar rendah hati. Orang-orang yang mendengarnya sampai mengira kalau Lydia tidak mengerti tentang lukisan tapi pura-pura mengerti. Lydia mengangkat alisnya dan membalas, “Untuk urusan menilai sebuah lukisan aku memang tidak mengerti. Tapi sebelum Kevin memulai debutnya, dia sepertinya juga sempat mempelajarinya.” Setelah mengatakannya, Lydia terdiam sejenak, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Kevin, “Menurutmu, bagaimana hasil lukisan dari Nona Shinta?” “Biasa-biasa saja.” Lydia langsung mencubit Kevin dan berkata, “Kenapa bicaramu seperti itu? Nona Shinta bisa mengusir kita nanti.” Wajah Shinta terlihat masam. Hanya saja setelah mendengar ucapan Lydia, Shinta terpaksa tersenyum dan mengatakan, “Kritik Pak Kevin memang tidak salah. Dibandingkan dengan Pak Kevin aku memang bukan apa-apa.” Kevin juga tidak sungkan sedikit pun saat menyahut, “Benar. Makanya, kerja sama kalian ditolak oleh manajerku. Aku harap Nona Shinta tidak berkecil hati.” “Tidak! Aku tidak berkecil hati.” Melihat Shinta menggertakkan giginya, Lydia merasa sudah waktunya untuk mereka mundur dari tempat itu. Lydia segera memalingkan wajahnya ke arah Kevin dan berkata, “Oh, ya? Kalau aku tahu kamu tidak menyukainya lebih awal, aku pasti tidak datang. Ayo pergi! Jangan membuang waktu Nona Shinta!” “Ok sayang!” Mereka berdua pun berbalik pergi. Dari tadi, Lydia juga tidak memedulikan pria yang berdiri di samping Shinta. Sedangkan Adam malah terlihat sangat tidak senang. Tatapannya berhenti di tubuh Lydia. Panggilan “sayang” yang terlontar dari mulut Kevin terdengar sangat menusuk di telinga Adam.